Jawab: Merujuk istilah ‘Primus Inter Pares’ – istilah Latin yang diterjemahkan sebagai “pertama diantara yang sejajar”. Istilah kemunculannya berasal usul dalam konflik antara Para Patriak Timur (Eastern) dan Katolik Roma atas Primasi selama abad ke-7 hingga ke-11 M, dan ini tak ada kaitannya dengan gelar atau konsep yang ada dalam Gereja dari Abad Pertama. Ada tampaknya perihal yang mirip diindikasikan dalam Kitab Kisah Para Rasul, bahwa Para Rasul Mshikha cenderung mengalah kepada Ya’aqub ha-Tzadik, yang berumur sekitar 20 tahun lebih tua dari mereka. (Kisah 12: 17 dan 15; 13 & 19). Sebaliknya Mshikha sendiri berbicara MENENTANG semacam primasi diantara Para Rasul, dalam Mar Mattai 20: 25 – 28, Dia berkata; “Barangsiapa ingin menjadi terbesar diantaramu biarlah ia menjadi pelayanmu”, dan Mar Mattai 23:10-12, Dia berkata “Janganlah kamu pula disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mshikha. Barangsiapa terbesar diantaramu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan dirinya sendiri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Dan semacam inilah pelayanan seperti inilah yang kami laksanakan dan kami mencoba untuk berusaha untuk melayani umat.
Perihal posisi Mar Ya’aqub ha-Tzadik diantara Para Rasul adalah masalah kesalehan dan sepuh bukan sebagai hak kerasuliahan. Perihal kutipan dalam Injil Thomas yang mengatakan “Murid-murid kemudian berbalik kepada Yeshua dan berkata: “Kami tahu bahwa Engkau akan meninggalkan kami. Siapakah orang yang akan menjadi pemimpin kami?” Yeshua berkata kepada mereka: “Pada kedudukan sang pemimpin yang kamu ikuti, kamu harus datang kepada Ya’akub sebab demi dia langit dan bumi menjadi ada.” (Thomas, Logia 2:7-8).
Jika kita bandingkan penulisan naskah Injil Mattai lebih dahulu dituliskan tahun 40 M., dan Injil Mar Thoma tahun 130 sampai 250 M., dan menggunakan Nama Thoma si Kembar. Pada waktu itu banyak penulis kitab menggunakan figur yang sudah dikenal umum, pada hal bukan tokoh itu penulisnya. Kita menghargai isi dari Injil Thomas “Apa yang benar, tetapi ada juga yang kontradiktif seperti yang kita persoalkan tentang kepemimpinan Ya’aqub ha-Tzadik, sebab Yeshua sendiri berkata “karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mshikha”!
Siapapun dia orang percaya untuk disebut kedudukan pemimpin tidak bisa kita dudukkan sebagai pemimpin karena hanya ada satu Kepala kita umat Percaya, yakni Mshikha (Efesus 1:22-23). Sekalipun, ia seorang rasul, atau setingkat Ya’aqub ha-Tzadik tetap saja bukan ia pemimpin kita dalam pengertian pemimpin Umat Percaya, tetapi dalam ‘organisasi umat secara duniawi’ setiap rasul itu disebut ‘Penilik’ (Ibrani, ‘Mebaqqer’ atau ‘Uskup’).
Dalam kaitan ini, kedudukan Ya’aqub ha-Tzadik seperti yang diungkapkan dalam Logia Injil Thomas di atas dicurigai sebagai ‘sisipan fanatisme Yahudi’ setelah muncul friksi antara golongan Yahudi percaya dan Bangsa-bangsa lain yang percaya Mshikha. Dari sudut pandang Alkitab, kedudukan Ya’aqub ha-Tzadik hanya berlaku di Tanah Suci bagi kaum Yahudi saja, dan wilayah lain adalah dipimpin oleh Rasul-rasul lainnya yang menjadi Penilik (Uskup) di wilayah itu secara administratif duniawi. Kedudukan Ya’aqub ha-Tzadik bukan menjadi TUAN atas Para Rasul yang sejajar dengan dirinya, dia adalah sesama hamba Mshikha juga, tidak kurang lebih. Justru, Simon Mar Kefa (Petrus) yang lebih pantas sebagai Ketua Para Rasul, tetapi itupun tidak Alkitabiah karena fakta sejarahnya dia sejajar dengan Para Rasul lainnya.
Dengan demikian, jawaban singkatnya, tidak ada Primus Inter Pares yang riil diantara Para Uskup dari Gereja-gereja kami. Secara alamiah satu hal yang bisa kita gunakan merujuk kepada senioritas seseorang yang barangkali tepat disebut Primasi Kehormatan (Primacy of Honour), dan pastinya orang itu berhutang kanonis ketaatan kepada Konsekratornya (Pentahbisnya) – semacam janji yang adalah bagian dari ibadah – tapi Gereja kita bukan hierarkis dalam sejatinya. Ini adalah ‘selular’ (yang berkaitan dengan sistem sel), seperti Gereja Rasuliah – dan kami tidak mau melihat ini berubah, sebab ini bisa menjadi aset yang sangat bermanfaat di masa depan, jika ada dari kita menghadapi penganiayaan serius.